Tentang IHF

Tentang IHF

Latar belakang didirikan IHF adalah berawal dari pertanyaan mengapa Indonesia yang mayoritas penduduknya sudah mengerti pengetahuan tentang moral dan agama (misalnya menjadi kewajiban mata pelajaran Moral Pancasila dan Agama untuk diberikan di seluruh jenjang pendidikan), tetapi tidak tercermin pada perilaku kehidupan sehari-hari di masyarakat. Maraknya tawuran pelajar, adanya konflik antar golongan (suku, agama, dan ideologi), tingginya angka korupsi, rusaknya lingkungan hidup, dan permasalahan sosial lainnya, adalah contoh dari adanya ketidaksinambungan antara apa yang diketahui (moral knowing), dengan apa yang dilakukan (moral action). Selain gagal membentuk karakter, pendidikan Indonesia juga belum berhasil menciptakan generasi kreatif dan berdaya pikir tinggi. Padahal sering diungkapkan bahwa abad ke-21 adalah era ekonomi kreatif. Tentunya ekonomi kreatif memerlukan manusia-manusia kreatif.

Sejarah IHF

Indonesia Heritage Foundation (IHF) ATAU Yayasan Warisan Nilai Luhur Indonesia, adalah organisasi nirlaba/non profit yang didirikan oleh Dr. Ratna Megawangi dan Dr. Sofyan Djalil, pada bulan Juni tahun 2000 (secara hukum disahkan oleh notaris publik pada September 2001 dengan akta notaris No. 578/ANP/2001, dan berdasarkan hukum terbaru yang berlaku, kemudian lebih lanjut disahkan oleh Departemen Hukum dan Hak Asasi Manusia No. 12 Tanggal 31 Agustus 2007).

Oleh karena itu, untuk mewujudkan “Bangsa Berkarakter, Cerdas, dan Kreatif” IHF mencoba membuat terobosan-terobosan baru bagaimana mewujudkan insan berkarakter mulia yang konsisten antara pikiran, hati, dan tindakan nyata (“habit of the mind”, “habit of the heart”, dan “habit of the hands”), yaitu melalui pengkajian, pengembangan, dan pendidikan 9 Pilar Karakter, serta pengembangan beberapa strategi pendidikan untuk menciptakan generasi kreatif dan berdaya pikir tinggi (Higher Order Thinking Skills).

Keberhasilan Program

Program Semai Bening Bangsa, salah satu program IHF sudah diamati dan direview oleh Prof. Jerry Aldridge dari USA selama 4 bulan (tahun 2010) dengan kesimpulan: “SBB program is one of the best Early Childhood Education Program in the world”. Selain itu seorang konsultan pendidikan dari Inggris, Carolyn Wignall, yang juga telah membina beberapa sekolah di Singapura, dan seorang volunteer di IHF (khusus datang dari Singapura untuk membantu IHF 3-4 kali sebulan) mengatakan: “IHF model is compatible with International Primary Curriculum“.

Berdasarkan beberapa hasil studi independen, model PHBK telah berhasil membentuk karakter positif, meningkatkan kreativitas dan kecerdasan anak secara umum. Beberapa studi ilmiah dapat dilihat pada hasil penelitian.

Dengan diwajibkannya Program Pendidikan Karakter di seluruh jenjang sekolah oleh Kementrian Pendidikan dan Kebudayaan sejak tahun 2010, model pendidikan PHBK – IHF semakin terasa dibutuhkan. Sejak tahun 2001 PHBK telah menerapkan model pendidikan tematik dan integratif yang sejalan dengan kurikulum nasional (dari Kurikulum 1996, KBK 2004, KTSP 2006 sampai Kurikulum 2013). Berdasarkan pengalaman IHF, masalah utama yang harus lebih diperhatikan adalah kualitas gurunya, karena secanggih apapun kurikulumnya, apabila guru tidak mampu menerapkan metode pembelajaran yang benar, maka kualitas pendidikan Indonesia tidak dapat diperbaiki. Maka, guna membantu guru dalam meningkatkan kualitas pendidikan yang ada, IHF siap bekerjasama dengan berbagai pihak untuk menularkan ilmu dan pengalaman kepada sekolah-sekolah lainnya sebagai wujud kontribusi positif IHF kepada dunia pendidikan Indonesia.