2014

Dian Anggari seorang mahasiswa S2 – Institut Pertanian Bogor melakukan penelitian dalam rangka menyelesaikan Tesisnya. Ada 2 kelompok yang diperbandingkan:

  1. SBB :dirancang untuk keluarga miskin dengan biaya masuk yang kecil dan uang bulanan yang rendah. Ini merupakan sebuah Taman Kanak-kanak alternatif berbasis masyarakat (menggunakan bangunan yang bebas uang sewa; garasi, teras, mesjid, dll). Modelnya sama seperti TK Karakter, juga dikembangkan oleh IHF (untuk keluarga kelas menengah ke atas).
  2. TK: Taman Kanak-kanak formal biasa (tidak menerapkan model pendidikan holistik berbasis karakter), dengan uang masuk (pendaftaran) relatif lebih tinggi dan uang sekolah bulanan yang lebih tinggi. Ini tidak terjangkau oleh keluarga miskin.

Penelitian ini menunjukkan hasil bahwa Model Pendidikan Holistik Berbasis Karakter (PHBK) terbukti telah berhasil membangun kecerdasan emosi siswa. Hal ini terlihat dari keunggulan siswa SBB dalam hal motivasi dan pengaturan diri. Secara keseluruhan total Emotional Quotient (kecerdasan emosi) siswa lebih unggul dibandingkan TK Umum.

dian-anggari

SBB juga terlihat lebih unggul dalam hal kualitas guru, active learning, dan lingkungan kondusif. Secara keseluruhan, hasil ini menunjukkan bahwa SBB lebih unggul dalam hal DAP (Pendidikan yang Patut yang Menyenangkan) dibandingkan TK Umum.

2013

TINGKAT KREATIVITAS SISWA SEKOLAH KARAKTER

Beberapa mahasiswa S2 – Institut Pertanian Bogor telah melakukan sebuah penelitian payung, yang salah satu aspeknya adalah untuk melihat perbedaan tingkat kreativitas siswa Sekolah Karakter dan siswa di dua sekolah konvensional (SD Negeri dan SD Swasta), dengan total siswa sebanyak 90 orang (masing-masing 30 siswa kelas 4 dan 5). Penelitian dilakukan pada bulan Mei sampai Juli 2012. Data kreativitas siswa menggunakan Tes Kreativitas Figural (penuh ide dan berpikir alternatif) dan Verbal yang dilakukan oleh beberapa Psikolog.

Hasil penelitian menunjukkan 60% siswa Sekolah Karakter memiliki siswa dengan tingkat Kreativitas Figural diatas rata-rata sampat sangat superior, dibandingkan dengan siswa konvensional yang hanya 26.7%. Begitu pula pada Kreativitas Verbal di mana siswa Sekolah Karakter menunjukan skor yang lebih tinggi dibandingkan sekolah konvensional, yaitu masing-masing 16.7% dan 3.3% pada kategori diatas rata-rata sampai sangat superior.

Jika dilihat berdasarkan rata-rata skor Tes Kreativitas Figural dan Verbal menunjukkan bahwa rata-rata skor siswa Sekolah Karakter lebih tinggi dibandingkan dengan sekolah konvensional. Berdasarkan uji beda t-test menunjukkan perbedaan yang nyata, artinya siswa di Sekolah Karakter memiliki tingkat Kreativitas Figural dan Verbal lebih tinggi daripada siswa di sekolah konvensional.

Kesimpulan dari penelitian ini adalah siswa yang bersekolah di Sekolah Karakter memiliki tingkat kreativitas Figural dan Verbal yang lebih tinggi daripada siswa yang bersekolah di sekolah konvensional. Model pembelajaran di Sekolah Karakter memang berbeda dengan sekolah konvensional, sehingga hasilnya terlihat bahwa siswa Sekolah Karakter memiliki tingkat berpikir yang tinggi dan diharapkan bisa lebih siap untuk menghadapi tantangan masa depan.

Institut-Pertanian-Bogor-2013

2007

Di bawah program CSR, ExxonMobil telah mengadopsi program SBB di Aceh Utara. Sejak tahun 2003, ExxonMobil telah membangun lokasi SBB baru (sejumlah sekitar 125) di Aceh Utara. Saat ini, program yang sama telah diperluas ke Cepu (Jawa Timur). Setelah itu, banyak SBB yang dibuka, ada kebutuhan untuk mengevaluasi efektivitas program SNN, khususnya dalam dampaknya di berbagai aspek perkembangan anak. Oleh karena itu, Board Directors dari ExxonMobil mengadakan penelitian independen, yang diadakan selama bulan April 2007 sampai Juli 2007 di Aceh Utara (jumlah sampel: 208 anak).
Sebagaimana ditunjukkan dalam semua grafik, anak-anak yang mengikuti program SBB secara konsisten menunjukkan hasil yang lebih baik daripada mereka yang mengikuti program Taman Kanak-Kanak biasa (TK) dan mereka yang tidak memiliki pengalaman pra sekolah sama sekali (tidak TK). Anak-anak SBB berasal dari tingkat latar belakang sosial ekonomi yang sama dengan anak-anak yang tidak masuk TK, akan tetapi secara signifikan lebih rendah dari murid-murid TK. Ini menunjukkan bahwa tanpa kehadiran sekolah SBB, hasil perkembangan anak-anak SBB akan sama dengan anak-anak yang tidak mengalami TK. Penelitian ini memperkuat bahwa model SBB secara signifikan meningkatkan hasil perkembangan anak secara keseluruhan, bahkan walaupun status sosial ekonomi mereka lebih rendah dari anak-anak TK, anak-anak SBB masih dapat menampilkan hasil yang lebih baik dari anak-anak TK.
Penelitian ini memberikan bukti yang kuat, bahwa model “Pendidikan Holistik Berbasis Karakter” dapat memberikan hasil positif dalam berbagai aspek dalam kecerdasan anak dan pengembangan karakter.

exxon

2006

Tesis doktoral yang ditulis oleh Dwi Hastuti Martianto (2006) di Fakultas Ekologi Manusia, Institut Pertanian Bogor (total sampel: 356 anak). Ada 3 kelompok yang diperbandingkan:

  1. SBB :dirancang untuk keluarga miskin dengan biaya masuk yang kecil dan uang bulanan yang rendah. Ini merupakan sebuah Taman Kanak-kanak alternatif berbasis masyarakat (menggunakan bangunan yang bebas uang sewa; garasi, teras, mesjid, dll). Modelnya sama seperti TK Karakter, juga dikembangkan oleh IHF (untuk keluarga kelas menengah ke atas).
  2. TK: Taman Kanak-kanak formal biasa (tidak menerapkan model pendidikan holistik berbasis karakter), dengan uang masuk (pendaftaran) relatif lebih tinggi dan uang sekolah bulanan yang lebih tinggi. Ini tidak terjangkau oleh keluarga miskin.
  3. Non-TK: Anak-anak yang tidak mampu untuk masuk ke Taman Kanak-Kanak, dan tidak ada SBB yang terrsedia di lingkungan masyarakat tersebut, kemudian langsung masuk ke Sekolah Dasar (SD).

Dwi-Hastuti-Martianto

2003

Sebuah penelitian independen membandingkan antara siswa SBB dan siswa non-SBB (jumlah sampel: 175 anak) dilakukan menggunakan kuesioner karakter dirancang oleh yayasan bekerjasama dengan Departemen Gizi Masyarakat dan Sumberdaya Keluarga, Institut Pertanian Bogor (2003). Hasil dari Tes U Mann Whitney, menyebutkan bahwa siswa SBB memiliki nilai 5.50(.00 signifikansi) poin lebih tinggi dalam tes karakter secara menyeluruh.

Institut-Pertanian-Bogor-2003

catatan:

TK A: satu tahun mengikuti SBB Vs. satu tahun di TK Formal

TK B: dua tahun mengikuti SBB Vs. dua tahun di TK Formal

1 SD: Kelas satu, setelah satu tahun menyelesaikan (lulus) SBB Vs. Bukan lulusan SBB