Model PHBK

MODEL PENDIDIKAN HOLISTIK BERBASIS KARAKTER
INDONESIA HERITAGE FOUNDATION (IHF)

Model Pendidikan Holistik Berbasis Karakter adalah sebuah model yang bukan hanya memberikan rasa aman dan nyaman pada anak, tapi juga menciptakan atmosfer belajar yang baik guna merangsang minat belajar anak, karena:

  1. Guru diberikan training sebelum menerapkan model pembelajaran ini di sekolah. Tujuan dari training ini adalah memotivasi dan membentuk guru agar dapat menjadi guru yang ramah dan penyayang, dapat memotivasi anak, serta mampu menciptakan lingkungan belajar yang menantang dan menyenangkan. Dalam training, guru akan memperoleh berbagai pengetahuan terbaru yang aplikatif, sehingga guru dapat langsung menerapkannya di kelas.
    • Guru yang memberikan kedamaian, santun, dan mampu berkomunikasi secara positif dan efektif baik kepada murid maupun kepada orangtua.
    • Guru yang dapat berinteraksi dengan murid yang menimbulkan rasa disayang, dihargai, dihormati, dimengerti, dan rasa aman pada murid.
    • Guru yang dapat menghargai/mengerti akan keunikan dan kemampuan masing-masing murid, sehingga setiap murid merasa diterima dan percaya diri.
    • Guru yang mampu menumbuhkan rasa toleransi terhadap segala perbedaan latar belakang murid (budaya, suku, dan agama).
    • Guru yang dapat menerapkan peraturan dan batasan-batasan secara jelas, sehingga mampu menerapkan disiplin positif (tanpa kemarahan).
    • Guru yang dapat memotivasi murid, menumbuhkan kreativitas, kemandirian, dan karakter positif lainnya.
  2. Hubungan emosional yang kuat antara guru dan murid akan terjalin dan menjadi modal utama untuk membantu murid-murid di kelas dalam belajar karena akan terbentuk kepercayaan, perasaan aman dan nyaman di kelas.
  3. Model ini juga memberikan kesempatan yang luas pada murid untuk mengembangkan seluruh dimensi holistik yang dimilikinya sebagai seorang manusia. Tidak hanya pengembangan aspek kognitif (otak kiri atau hafalan), tapi juga pengembangan aspek emosi, sosial, kreativitas, dan spiritualitas (otak kanan) yang keseluruhannya tercakup di dalam modul pembelajaran. Dengan metode ini, murid memiliki kesempatan untuk mengungkapkan perasaannya baik secara verbal, melalui gambar, permainan, tulisan, ataupun bentuk lainnya sehingga dapat mengurangi rasa takut, tidak nyaman dan meningkatkan kepercayaan diri.
  4. Model pembelajaran ini bertujuan untuk membentuk karakter positif anak melalui pengembangan Pilar-Pilar Karakter secara intensif. Yaitu meliputi aspek mengetahui, mencintai dan melakukan kebaikan (knowing, reasoning, loving, and acting the good). Metode ini akan membentuk suasana kelas yang bersahabat, kebersamaan, saling mendukung, dan menghargai dengan sesama temannya.
  5. Model ini menyiapkan modul kurikulum terintegrasi dengan pembelajaran tematik, integratif, yang dapat meningkatkan kemampuan Higher Order Thinking Skills murid. Model ini juga menyediakan alat bantu mengajar yang sesuai dengan tahap perkembangan anak. Dengan demikian guru dapat memberikan pengalaman belajar yang konkret, kontekstual sehingga merangsang anak belajar secara aktif, menyenangkan, dan tanpa beban. Pada umumnya di kelas yang menggunakan metode lama (klasikal), murid merasa terbebani karena penggunaan alat bantu mengajar yang tidak sesuai dengan perkembangan anak dan metode mengajar yang tidak sesuai dengan kerja otak.
  6. Karena dalam metode pembelajaran ini murid diberikan banyak kesempatan untuk melakukan kegiatan belajar nyata secara langsung (hands-on activities, seperti misalnya kegiatan matematika, sains, memasak, berkebun), maka murid akan memiliki perasaan bahwa dirinya memiliki kemampuan. Perasaan bahwa dirinya mampu akan berkembang dan tumbuhnya rasa percaya diri. Selain itu akan tumbuh pula kerja sama di antara murid.

 

Model PHBK memfokuskan pada pembentukan seluruh aspek dimensi manusia, sehingga dapat menjadi manusia yang berkarakter, kreatif, dan berdaya pikir tinggi. Kurikulum Holistik Berbasis Karakter ini disusun  menggunakan pendekatan Student Active Learning, Integrated Learning (tematik integratif), Developmentally Appropriate Practices, Contextual Learning, Collaborative Learning, Brain-based Learning, dan Multiple Intelligences yang semuanya dapat menciptakan suasana belajar yang efektif dan menyenangkan, serta dapat mengembangkan seluruh aspek dimensi manusia secara holistik.

IHF menyediakan materi siap pakai untuk membantu para pendidik dalam melaksanakan kurikulum. Model ini memfokuskan pada pembentukan karakter kepada para siswa yang dilakukan secara eksplisit, dan berkesinambungan. Selain itu, pendidikan karakter bukanlah sesuatu disiplin ilmu yang berdiri sendiri, akan tetapi berkaitan dengan seluruh aktivitas kehidupan. Karenanya program Pendidikan Karakter dapat diintegrasikan ke dalam seluruh mata pelajaran akademis (mulai dari TK sampai Sekolah Dasar, kelas 1-6). Program yang menyeluruh ini bertujuan untuk menyeimbangkan antara hati, otak, dan otot (Pendidikan Holistik).

Diharapkan peserta didik akan menjadi anak-anak yang berfikir kreatif, bertanggung jawab, dan memiliki pribadi yang mandiri (manusia holistik).

Filosofi tentang pendidikan holistik adalah sebuah proses belajar yang menyenangkan dan menantang, yang dapat membangun manusia secara utuh (manusia holistik) di mana seluruh dimensinya berkembang secara seimbang dan optimal, termasuk terbentuknya kesadaran individu bahwa ia adalah bagian dari anggota keluarga, sekolah, lingkungan, masyarakat, dan komunitas global.

Foto-untuk-bagian-PHBK_resized

Tujuan Model Pendidikan Holistik Berbasis Karakter

Membentuk manusia holistik/utuh (whole person) yang cakap dalam menghadapi dunia yang penuh tantangan dan cepat berubah, serta mempunyai kesadaran spiritual bahwa dirinya adalah bagian dari keseluruhan (the person within a whole).

Manusia Holistik:

  • Aspek fisik: perkembangan optimal aspek motorik halus dan kasar, menjaga stamina, dan kesehatan.
  • Aspek emosi: menyangkut aspek kesehatan jiwa; mampu mengendalikan stress, mengontrol diri (self-discipline) dari perbuatan negatif, percaya diri, berani mengambil resiko, empati.
  • Aspek sosial dan budaya: belajar menyenangi pekerjaannya, bekerja dalam tim, pandai bergaul, kepedulian tentang masalah sosial dan berjiwa sosial, bertanggung jawab, menghormati orang lain, mengerti akan perbedaan budaya dan kebisaaan orang lain, mematuhi segala peraturan yang berlaku.
  • Aspek kreativitas: mampu mengekspresikan diri dalam berbagai kegiatan produktif (seni musik, pikiran, dsb), serta mencari solusi tepat bagi berbagai masalah.
  • Aspek spiritual: mampu memaknai arti dan tujuan hidup dan mampu berefleksi tentang dirinya, mengetahui misinya dalam kehidupan ini sebagai bagian penting dari sebuah sistem kehidupan, dan selalu bersikap takzim kepada seluruh ciptaan Tuhan.
  • Aspek akademik: berpikir logis, berbahasa, dan menulis dengan baik. Selain itu dapat mengemukakan pertanyaan kritis dan menarik kesimpulan dari berbagai informasi yang diketahui.

Kualitas karakter manusia yang berkembang secara holistik:

  1. Selalu ingin tahu dan bertanya (inquirer): sifat alami manusia yang selalu bertanya dan ingin tahu tumbuh subur pada dirinya, sehingga kecintaannya untuk terus belajar menjadi sifat alaminya yang terbawa sampai tua.
  2. Berpikir kritis dan kreatif (critical and creative thinkers): mampu untuk melihat masalah dari berbagai sudut pandang, sehingga dapat mengambil keputusan dengan bijak dan menyelesaikan masalah yang sangat kompleks. Selain itu mampu mengumpulkan, menganalisis, dan mengevaluasi secara kritis segala informasi yang diperoleh.
  3. Berpengetahuan luas (knowledgeable): mempunyai ketertarikan yang besar pada masalah-masalah global yang relevan dan penting, sehingga selalu meluangkan waktu untuk membaca dan mengeksplorasi bidang-bidang yang diminatinya. Pengetahuannya tentang sesuatu menjadi solid dan membumi.
  4. Komunikator yang efektif (effective communicator): mampu mengekspresikan pikiran dan perasaannya dengan efektif, baik secara verbal maupun tertulis. Dengan bekal pengetahuan yang luas, segala informasi dapat dikomunikasikan dengan percaya diri dan meyakinkan.
  5. Berani mengambil resiko (risk taker): segala tantangan baru dihadapi dengan optimis dan percaya diri, serta berani mencoba menggunakan ide dan strategi baru dalam menjawab tantangan dan rintangan yang ada.
  6. Bersikap terbuka terhadap segala perbedaan dan ide baru (open-minded): dapat menghormati pendapat, nilai, dan tradisi yang berbeda. Mengerti bahwa manusia mempunyai latar belakang budaya beragam, dan dapat mengambil keputusan dengan mempertimbangkan perbedaan-perbedaan tersebut.
  7. Peduli kepada orang lain dan lingkungan sekitar (caring): sensitif terhadap kebutuhan dan perasaan orang lain, serta lingkungannya (sosial, ekonomi, dan alam). Mempunyai komitmen terhadap kegiatan sosial dan senantiasa memberikan nilai tambah kepada lingkungannya (added value).
  8. Mempunyai integritas moral (integrity): memegang teguh prinsip moral, kejujuran, bersikap obyektif, dan adil.
  9. Mempunyai kesadaran spiritual: bahwa dirinya adalah bagian dari keseluruhan dan mengerti bahwa apapun yang dilakukannya akan membawa konsekuensi kepada lingkungannya. Mampu untuk melihat kekurangan/kelebihan dirinya, serta mempunyai rasa inter-connection (silaturahmi, baik dengan Tuhan, manusia, maupun alam), dan compassion (rasa kasih sayang dan kepedulian).

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.